Bunga Tidak Pernah Bersuara

Rabu, 16 September 2009

Oleh: Gede Prama

Riuh, ribut, demikianlah kira-kira suasana komunikasi antarmanusia pada tahun 2009. Mantan Presiden AS George W Bush mengakhiri jabatannya dengan dilempar sepatu. Negeri ini juga riuh serta ribut urusan presiden dan pemilu.
Di tengah-tengah suhu komunikasi yang memanas ini, ada indahnya bila sekali-sekali sepi-sunyi yang mengemuka. Bukan sebagai lawan keributan. Hanya mengemuka seperti menarik napas dalam-dalam sekali waktu setelah lama tidak merasakan segarnya kehidupan.
Dalam menelusuri segarnya kehidupan, ada dua jalur yang tersedia. Ada yang berjalan dengan intelektualitas, ada yang melangkah di jalan-jalan bakti (devotion). Pada pendekatan pertama, semuanya dianalisis. Itu sebabnya para master meminta penekun meditasi di Barat (yang kebanyakan berjalan di jalan intelektualitas) segera merealisasikan kekosongan (emptiness).
Begitu mengalami langsung kekosongan (bukan mengerti melalui intelek) baru bisa mengagumi sepi-sunyi. Di jalan bakti, tidak diperlukan terlalu banyak perdebatan. Yang ada hanya bakti yang tulus, penuh sujud, rasa hormat yang mendalam. Dan ujung-ujungnya sama, mengalami kekosongan.
Dalam bahasa seorang guru yang sudah sampai di puncak, lakukan terus-menerus bakti. Sampai di sebuah titik sehingga yang memberi, yang diberi, maupun pemberian sesungguhnya tidak ada. Itulah sepi-sunyi.
Sembah rasa
Di Timur dulunya kebanyakan manusia berjalan di jalan-jalan bakti. Itu sebabnya berdoa dipadankan dengan sembahyang. Ada kata sembah di sana. Awalnya memang dimulai dengan dualitas antara penyembah dan yang disembah, tetapi kemudian keduanya menjadi satu, serta ujungnya yang satu pun lenyap dalam keheningan.
Dan, semua sembah mulai dengan sembah raga. Namun, karena badan terbuat dari bahan-bahan yang bertentangan (air-api, tanah-udara), banyak manusia yang hanya menggunakan sembah raga kemudian mengalami guncangan-guncangan. Seberguncang bahan-bahan yang membentuk tubuh. Dari sinilah lahir kebutuhan melakukan sembah rasa. Di mana lebih dari sekadar menggunakan raga, badan mulai dibimbing oleh getaran-getaran rasa.
Bukan rasa suka yang bertentangan dengan duka, bukan suci yang diseberangkan dengan kotor. Melainkan rasa yang memeluk mesra semuanya. Seperti seorang ibu yang merawat putra tunggalnya. Tatkala putranya tersenyum, ia gendong. Manakala putranya menangis sambil menyisakan kotoran di tempat tidur, lagi-lagi ia gendong putranya dengan penuh kasih sayang. Sembah rasa juga serupa, belajar tersenyum pada apa saja yang datang dalam kehidupan. Sebagai hasilnya, hidup berputar lentur bersamaan dengan irama alam. Siang tersenyum pada cahaya terang dengan jalan bekerja. Malam berpelukandengan kegelapan melalui istirahat di tempat tidur.
Di jalan ini, semuanya menjadi sembahyang. Tatkala makan, maka makanlah dengan penuh rasa syukur. Pada hari yang sama ada jutaan manusia kelaparan. Ketika menyapu, menyapulah sambil bersiul. Pada menit yang sama ada jutaan manusia sakit di rumah sakit.
Bila begini caranya, every act is a rite. Setiap langkah adalah sembah. Puisi Jalalludin Rumi menjadi wakil dalam hal ini. Hidup serupa bawang merah. Di luar kotor kecoklatan. Tatkala dibuka jadi putih. Semakin dibuka semakin putih. Tambah dibuka tambah putih. Dan, tatkala tidak ada lagi yang bisa dibuka, yang tersisa hanya air mata yang meleleh.
Sembah rahasia
Ia yang sudah berjalan jauh dengan sembah rasa, suatu waktu akan melihat bila alam menyimpan banyak rahasia. Di Timur, Tantra adalah salah satu jalan rahasia. Tidak banyak orang yang bisa membuka pintu Tantra. Di samping berat juga berbahaya. Ada yang mengandaikan Tantra dengan jalan tol yang cepat sampainya. Namun, mengalami kecelakaan di jalan tol amat sangat berbahaya.
Itu sebabnya ada yang membagi perjalanan Tantra ke dalam tiga gerbang. Kehidupan diandaikan dengan pohon beracun karena banyak godaannya. Pada tahap pertama, manusia disuruh menjauh dari pohon beracun. Makanya banyak imbauan melakukan puasa, pengendalian diri, hidup berkecukupan, penuh rasa syukur. Begitu lewat gerbang pertama yang ditandai oleh kemampuan menguasai diri (self mastery) yang baik, kemudian di langkah kedua murid akan diminta untuk menjadi penjaga pohon beracun. Mulailah seorang penekun menjadi ”penggembala domba” bagi banyak kehidupan.
Ada yang jadi guru, penulis, pemimpin upacara, pemimpin yang jujur. Intinya satu, menjaga jangan sampai terlalu banyak kehidupan keracunan. Begitu jam terbang menjadi penggembala domba sudah cukup, baru boleh masuk ke inti sari Tantra: mengolah racun menjadi obat kehidupan. Makanya, bila di kebanyakan jalur hawa nafsu dilarang, di Tantra ada pendekatan menggunakan hawa nafsu (khususnya seks) sebagai kendaraan transformasi spiritual. Bukan untuk dibawa hanyut oleh nafsu, tetapi menghanguskan nafsu dengan nafsu. Itu sebabnya di banyak tempat di Jawa, Sumatera, Kalimantan, India, dan Amerika Latin banyak peninggalan-peninggalan tua yang memamerkan hubungan seksual. Di Bali disebut lingga-yoni, nyegara-gunung. Siapa saja yang sudah membumihanguskan semua keinginan (termasuk keinginan menjadi suci atau tercerahkan), ia mulai belajar melihat rahasianya rahasia.
Persembahan di banyak tradisi (tidak saja di Bali) sering kali berisi bunga. Di sejumlah Negara (seperti Jepang) bahkan menempatkan bunga secara amat istimewa. Seperti ada rahasia di sana. Bunga mekar mewakili keindahan. Namun, seberapa indah pun bunga, beberapa waktu kemudian harus ikhlas menjadi sampah. Dan, baik tatkala diberi sebutan indah maupun sebutan sampah, bunga tidak pernah bicara. Siapa yang hidupnya mengalir sempurna dari bunga (sukses, dipuja) menjadi sampah (gagal, dicerca), kemudian (bila bisa mengolahnya) menjadi bunga lagi, ia sudah membuka salah satu pintu rahasia.
Seorang guru yang sudah sampai di sini pernah menulis: Physical isolation is not the true solitude. Totally free from any grasping, that’s the true solitude. Lepas bebas dari segala kemelekatan (baik-buruk, benar-salah), itulah keheningan sesungguhnya.
Ada yang bertanya, bila sudah lepas-bebas, lantas apa pedoman bertindak? Seorang guru berbisik kepada muridnya: memandanglah seperti langit, bertindaklah seperti ibu pertiwi. Langit memayungi semuanya, ibu pertiwi bertindak ketat mengikuti hukum alam. Bila menanam jagung, buahnya jagung. Kalau memelihara kelapa, buahnya kelapa. Selamat Hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1931.
Sumber: Harian Kompas, Rabu 25 Maret 2009
Selengkapnya

Sang Imam

Selasa, 15 September 2009

Inilah persinggahan sang tokoh Padri
Dari ranah Minang kobarkan perwira
Lawan angkara murka penjajah
Dibuang jalani takdir
Menjadi kusuma bangsa
Kampung Lota Pineleng, 15 Agustus 2009
Selengkapnya

Luruh

Apalagi yang harus dibuktikan
Ketika hati bertemu hati
Mata luruh dalam kerinduan
Manado, 18 Agustus 2009
Selengkapnya

Kotamobagu



Sehari sebelum 17 Agustus tepat jam 1 siang
Kotamobagu begitu dingin

Hujan perlahan berlabuh
Ada keharuan senasib setanah air
Ribuan kilometer jauhnya
Dari mata para penyambut
Aku tahu mereka benar-benar
Ingin bersapa hati
Kotamobagu, 16 Agustus 2009
Selengkapnya

Aku Rindu

Aku yang jauh darimu
Hanya bisa berkata
“Meh, aku benar-benar merindukanmu”
Manado, 15 Agustus 2009
Selengkapnya

Keluar dari “Kepompong Sejarah”

Jumat, 11 September 2009

Oleh Iim Imadudin


Ada banyak keberuntungan dalam hidupku yang harus dirayakan dengan penuh rasa syukur. Keberuntungan diberi umur panjang hingga kesehatan yang terpelihara. Keberuntungan dikaruniai orang-orang tercinta hingga hidup terasa berwarna. Keberuntungan diberikan kemudahan dalam situasi sulit. Keberuntungan mendapat pekerjaan yang baik. Keberuntungan memperoleh sesuatu di luar kapasitas yang kumiliki. Keberuntungan bertemu dengan orang-orang yang inspiratif. Banyak dan masih banyak lagi keberuntungan yang kualami selama ini. Keberuntungan itu tidak lain adalah nikmat yang tak terkira. Benar kata Tuhan, betapapun kamu bersibuk-sibuk menghitung nikmat Allah, kamu tidak akan sanggup menghitungnya. Dari semua itu, keberuntungan terbesar adalah adanya berkah dalam kehidupan.

Berkah itu tidak lain adalah bertambahnya kebaikan. Orang yang diberikan nikmat dan ia terus menyukuri apa yang diperolehnya, berarti ia mengabadikan karunia Allah. Sifat dari kebaikan itu berarti perubahan ke arah yang baik. Aku ingin terus menerus mentransformasi diri untuk selalu menjadi lebih baik. Lebih baik dan lebih baik lagi merupakan spirit ke arah kemajuan. “Dunia kemajuan” hanya bisa diraih dengan semangat untuk menjadikan hari-hari bahkan detik per detik hidupku sebagai persemaian kemajuan. Dalam perjalananku menuju kemajuan itu, banyak sekali virus-virus yang harus ku lawan. Virus-virus itu kadang dapat aku scanning dengan baik hingga menjadi heal atau clean. Namun tidak jarang sebagian virus itu terpaksa aku karantina (move to vault). Sebagian lagi bahkan tak dapat aku deteksi sama sekali. Inilah tiga dari beberapa virus yang aku hadapi.

Virus pertama, aku hidup untuk hari ini. Sering aku merasakan bahwa untuk apa berpikir hari esok, hari ini pun belum kulalui sepenuhnya. Anggapan demikian sering membuatku melupakan visi hidup yang sesungguhnya. Aku ada, karena hari ini aku sungguh-sungguh ada, dan bukannya ada pada masa kemudian. Pemikiran eksistensialis ini membuatku jumud dan stagnan. Aku seperti menjadi budak masa kini.

Virus kedua, paradigm berpikir materialisme. Ini mungkin kenyataan yang paling telanjang terjadi sekarang ini. Kesuksesan semata-mata diukur dari kemampuannya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Orang dianggap sukses apabila ia telah kaya karena memiliki fasilitas hidup yang mewah. Orang menjadi berhasil bila mampu mengumpulkan capital dalam jumlah besar. Paradigma ini sering membuat salah arah. Kemajuan itu bukan hanya secara material, tetapi juga rohaniah (batiniah). Banyak pengalaman batin yang luput dari list kesuksesan hidupku.

Virus ketiga, aku dapat, karena usahaku sendiri, tidak ada campur tangan Tuhan. Beberapa kali aku merasakan pengalaman ini hingga Tuhan menegurku dengan caranya sendiri. Beberapa tahun ini aku berpikira terlalu rasional. Mungkin ini pengaruh dari bacaanku yang cenderung liberal dan sangat toleran dengan wacana-wacana alternatif hingga loss control.

Masih banyak lagi virus-virus lain yang belum sempat aku tuliskan. Aku percaya pengalaman sejarah yang kualami memberi banyak kearifan. Banyak cara dan jalan untuk keluar dari “kepompong sejarah”. Meski hukum alam selalu menunjukkan pentingya proses, namun Tuhan memberi jalan pintas (by pass) untuk kembali kepada kesejatian yang fitri dan putih. Dalam dua belas bulan setahun, ada bulan mulia. Dalam tujuh hari ada hari yang istimewa. Bahkan saat-saat kita ibadah pun menjadi saat yang spesial. Ada sholat malam yang merupakan SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh) yang relatif minim dengan high trafficking (lalu lintas yang sibuk). Saat itu dimana hamba sepenuhnya berpasrah kepada Allah. Intinya, memang, hidup terlalu sayang untuk dijalani apa adanya. Banyak hal yang kuperoleh andai aku mau mengusahakannya. Mari rayakan hidup dengan penuh rasa syukur. Ya, Allah aku bermohon kepada-Mu atas taubat-taubatku terdahulu. Sungguh, aku ingin selalu mengingat-Mu dengan penuh cinta!!!!!!!
Cinambo, 11 September 2009
Selengkapnya

Catatan Perjalanan Lasenas VII di Manado

Kamis, 20 Agustus 2009

Oleh Iim Imadudin

“Sejarah adalah travelogue para pencari kebenaran”

Bagiku, setiap perjalanan memiliki sejarahnya sendiri. Ada ingatan personal maupun kolektif yang menyertainya. Entah itu kenangan yang manis ataupun pahit selalu tersusun rapi dalam file-file pikiran. Mulai tanggal 13 hingga 18 Agustus 2009, aku mengikuti Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) ke-7 di Manado. Berkenaan dengan Lasenas, ini yang kedua kalinya aku ikuti. Tahun 2004, aku mengikuti Lasenas di Aceh, tepat empat bulan sebelum tragedi tsunami Aceh yang telah melegenda itu.

Aku selalu ingin mengabadikan ingatan tentang apapun dalam bentuk tulisan. Karena aku sadar, ingatan manusia tidak cukup menampung detil-detil peristiwa yang begitu banyak. Manusia memiliki memori yang pendek. Bukankah manusia adalah tempatnya kesalahan dan kelupaan. Itulah sebabnya kepikunan yang notabene adalah kelupaan selalu menyertai ketuaan. Maka, perjuangan kita adalah perjuangan melawan lupa. Mudah-mudahan tulisan ini tidak saja bermanfaat bagiku. Namun juga, orang-orang yang ingin pula merasakan dan mengenang perjalanan yang aku lakukan. Bagi teman-teman yang mengikuti Lasenas silakan membacanya sebagai memori bersama.

14 Agustus 2009
Aku merupakan bagian delegasi BPSNT Bandung yang terdiri dari Bapak Drs. Toto Sucipto (Kepala BPSNT Bandung), Dudung Koswara, S.Pd (Guru SMAN 1 Kota Sukabumi), Nurlesa Nidia Salam (Siswi SMAN 1 Tarogong Kidul Garut), dan Nadiyya Anindita (Siswi SMAN 1 Subang). Ketiga peserta yang dibawa Pak Toto merupakan peserta terbaik hasil Lawatan Sejarah Daerah yang diselenggarakan BPSNT Bandung beberapa bulan silam. Bersama kami, ikut pula partisipan dari wilayah kerja, yaitu Drs. Muhammad Irwan (Guru SMAN 1 Kota Serang) dan Rahma Alia (Siswi MAN 1 Jakarta). Show must go on!!

Dingin menyergap Jakarta menjelang pagi, Kami bersama peserta lasenas yang menginap di Hotel Trisula meluncur ke Bandar Soekarno Hatta Sekitar pukul 03.15 WIB. Kegelapan belum lagi sirna, namun orang-orang dengan tujuan yang berbeda-beda bersiap-siap melakukan penerbangan. Sekitar 75 peserta yang berasal dari BPSNT Bandung, Yogyakarta, Aceh, Padang, Tanjung Pinang, dan Pontianak; sejumlah partisipan dan panitia terbang dengan pesawat Sriwijaya Air pada pukul 05.45 WIB. Pesawat sebelum menuju Manado, harus transit terlebih dahulu di Surabaya. Beberapa jam aku melayang-layang di udara. Dalam ketinggian ribuan kaki, aku merasa ketidakberdayaan sebagai makhluk yang lemah. Melihat ke arah jendela pesawat yang nampak hanyalah gumpalan awan putih yang berarak. Aku selalu membayangkan lagu Katon Bagaskara tentang negeri di awan. Mungkinkah ada kehidupan lain di sana, wallahu a’lam. Kadang-kadang terlihat pula puncak-puncak gunung yang memaku ke bumi. Adapula noktah-noktah kecil yang samar terlihat. Itulah pulau-pulau Indonesia permai yang begitu luas. Langit Manado begitu cerah, secerah hatiku melakukan perjalanan ini. Tepat pukul 11.00 WITA, pesawat mendarat di Bandara Sam Ratulangi, kota Manado. Teman-teman BPSNT Manado menyambut kami. Sebagian menuju Hotel Orion,dan sebagian lagi ke Golden Lake Hotel.

Pada pukul 19.00 WITA, sebanyak 175 peserta Lasenas berkumpul di Golden Lake. Peserta siswa dibagi menjadi tujuh kelompok. Dalam kuis kesejarahan, Drs. Harry Untoro Drajat, M.A. (Dirjen Sepur) mencoba mengeksplorasi wawasan siswa mengenai warisan sejarah. Beliau tidak memberikan pertanyaan biasa, melainkan mengajak siswa untuk merumuskan jawabannya sendiri. Beliau mengandaikan warisan sejarah itu sebagai jam tangan. Nilai-nilai apa saja yang ada dalam jam tangan dan bagaimana merawat dan menjaganya. Ternyata dari siswa keluar jawaban-jawaban yang cerdas. Jam tangan adalah simbol waktu, etika, teknologi, dan seterusnya. Mereka memberi banyak jalan untuk melestarikan warisan sejarah dan budaya bangsa.

Bersambung…………………………..
Selengkapnya