Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

“Dongeng Sejarah” dan Kesadaran Sejarah

Jumat, 02 Oktober 2009


Rabu (30/9/09) saya berkesempatan menjadi juri Lomba “Dongeng Sejarah” di Gedung PGRI Kab. Bandung. Penyelenggaranya adalah Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung.
Lomba dibagi dalam tiga level: SD, SMP, dan SMA. Secara akademik, istilah “dongeng sejarah” merupakan contradiction in terminis alias kerancuan dalam peristilahan. Sejarah sebagai fakta disatunafaskan dengan fiksi. Kenyataannya, memang, konsepsi sejarah pada tingkatan akademis dan masyarakat tidaklah sama. Pada tingkat masyarakat, sejarah memang dekat sekali dengan sesuatu yang bernuansa dongeng. Itulah sebabnya, Kang Jay (Kasie Sejarah Disdik Kab. Bandung), agaknya memprovokasi berbagai stake holder di dunia pendidikan Kab. Bandung dengan istilah “dongeng sejarah”. Tujuannya tiada lain, menanamkan kecintaan dan kesadaran sejarah di kalangan pelajar. Mungkin ke depan, harus dipikirkan satu peristilahan yang lebih pas.
Pada level SMP, jumlah peserta cukup banyak mencapai 36 orang. Masing-masing peserta dengan ciri khasnya masing-masing. Ada yang fokus pada kemampuan klasik mendongeng, yaitu bercerita, dan adapula yang menggunakan alat peraga. Ada yang mendongeng datar-datar saja, dan adapula yang mendongeng sambil bersedih hati. Seolah seluruh cerita sang pahlawan penuh dengan duka lara. Ada juga yang mendongeng dengan gaya komedi. Keberagaman penampilan menunjukkan bahwa kita sesungguhnya memiliki mutiara-mutiara terpendam yang harus terus dibina.
Ada banyak catatan plus- minus tentang kegiatan tersebut. Namun, yang ingin saya garisbawahi, adalah masih amat terbatasnya wawasan peserta dan pembimbingnya tentang sosok pahlawan dan pejuang di Jawa Barat. Pahlawan yang sudah diresmikan melalui SK Presiden dan pejuang yang banyak tersebar di berbagai pelosok Jawa Barat. Hampir separuhnya mendongeng sosok ibu Dewi Sartika. Bahkan Sembilan puluh persen, peserta mengangkat pahlawan Dewi Sartika dan Otto Iskandar Dinata. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap tokoh sejarah di Jawa Barat masih harus ditingkatkan. Untuk itu, berbagai pihak terkait: unsur pemerintah, swasta, dan masyarakat harus bersinergi untuk meningkatkan kesadaran sejarah bukan hanya generasi muda, tapi masyarakat seluruhnya. Tujuannya, agar kita tidak pareumeun obor dan mampu menghayati nilai-nilai perjuangan para pendahulu kita.
Selengkapnya

Workshop dan Festival Komunitas Adat

Selasa, 21 Juli 2009

Komunitas adat sebagai entitas kultural telah memberikan corak tersendiri terhadap kekayaan budaya bangsa. Namun, dalam perkembangannya kemudian, terdapat kecenderungan makin termarginalkannya entitas tersebut. Maka muncul istilah “pemberdayaan” suatu istilah yang pada masa lalu (khususnya masa Orde Baru) memperoleh stigma yang kurang positif. Komunitas adat sering diposisikan sebagai “masyarakat terasing”, “masyarakat terasing yang kuno, sebagai the otherness. Workshop yang berlangsung pada tanggal 22 Juni 2009 tersebut bertempat di aula Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung. Kegiatan yang mengundang guru, siswa, LSM, dan kalangan pemerintah dibuka secara resmi dibuka oleh Direktur Kepercayaan Depbudpar, Drs. Gendro Nurhadi, M.Pd. Pak Gendro mengatakan bahwa komunitas adat merupakan benteng terakhir dalam berperilaku dan bersopan santun.

Workshop yang dipandu Drs. Nandang Rusnandar menghadirkan Pak Ade Suherlin (kuncen Kampung Naga), Muhtarom Sumakerti (PAMAPUJA), Drs. Eddy Sunarto (Disparbud Jabar), dan Dr. Ade Makmur K, M.Phil (akademisi). Masalah-masalah yang mengemuka dalam kegiatan tersebut, antara lain kelangkaan minyak tanah di Kampung Naga, dampak pariwisata terhadap perubahan nilai-nilai, perlunya regulasi tentang pelindungan hak-hak komunal masyarakat adat, krisis budaya di komunitas baduy, dan lain-lain. Berkaitan dengan tema “Indonesia kreatif” dalam hubungannya dengan komunitas adat, Dr. Ade M.K. menjelaskan berpikir kreatif dalam konteks komunitas adat artinya melindungi warisan leluhur dengan kontribusi yang diperoleh. Memang, kembali ke akar harus menumbuhkan kebanggaan. Pak Ade Suherlin mengatakan, kami bangga disebut ortodoks, karena meletarikan dan menghayati nilai-nilai leluhur. Salut!!!!

Selengkapnya