Sang Imam

Selasa, 15 September 2009

Inilah persinggahan sang tokoh Padri
Dari ranah Minang kobarkan perwira
Lawan angkara murka penjajah
Dibuang jalani takdir
Menjadi kusuma bangsa
Kampung Lota Pineleng, 15 Agustus 2009
Selengkapnya

Luruh

Apalagi yang harus dibuktikan
Ketika hati bertemu hati
Mata luruh dalam kerinduan
Manado, 18 Agustus 2009
Selengkapnya

Kotamobagu



Sehari sebelum 17 Agustus tepat jam 1 siang
Kotamobagu begitu dingin

Hujan perlahan berlabuh
Ada keharuan senasib setanah air
Ribuan kilometer jauhnya
Dari mata para penyambut
Aku tahu mereka benar-benar
Ingin bersapa hati
Kotamobagu, 16 Agustus 2009
Selengkapnya

Aku Rindu

Aku yang jauh darimu
Hanya bisa berkata
“Meh, aku benar-benar merindukanmu”
Manado, 15 Agustus 2009
Selengkapnya

Keluar dari “Kepompong Sejarah”

Jumat, 11 September 2009

Oleh Iim Imadudin


Ada banyak keberuntungan dalam hidupku yang harus dirayakan dengan penuh rasa syukur. Keberuntungan diberi umur panjang hingga kesehatan yang terpelihara. Keberuntungan dikaruniai orang-orang tercinta hingga hidup terasa berwarna. Keberuntungan diberikan kemudahan dalam situasi sulit. Keberuntungan mendapat pekerjaan yang baik. Keberuntungan memperoleh sesuatu di luar kapasitas yang kumiliki. Keberuntungan bertemu dengan orang-orang yang inspiratif. Banyak dan masih banyak lagi keberuntungan yang kualami selama ini. Keberuntungan itu tidak lain adalah nikmat yang tak terkira. Benar kata Tuhan, betapapun kamu bersibuk-sibuk menghitung nikmat Allah, kamu tidak akan sanggup menghitungnya. Dari semua itu, keberuntungan terbesar adalah adanya berkah dalam kehidupan.

Berkah itu tidak lain adalah bertambahnya kebaikan. Orang yang diberikan nikmat dan ia terus menyukuri apa yang diperolehnya, berarti ia mengabadikan karunia Allah. Sifat dari kebaikan itu berarti perubahan ke arah yang baik. Aku ingin terus menerus mentransformasi diri untuk selalu menjadi lebih baik. Lebih baik dan lebih baik lagi merupakan spirit ke arah kemajuan. “Dunia kemajuan” hanya bisa diraih dengan semangat untuk menjadikan hari-hari bahkan detik per detik hidupku sebagai persemaian kemajuan. Dalam perjalananku menuju kemajuan itu, banyak sekali virus-virus yang harus ku lawan. Virus-virus itu kadang dapat aku scanning dengan baik hingga menjadi heal atau clean. Namun tidak jarang sebagian virus itu terpaksa aku karantina (move to vault). Sebagian lagi bahkan tak dapat aku deteksi sama sekali. Inilah tiga dari beberapa virus yang aku hadapi.

Virus pertama, aku hidup untuk hari ini. Sering aku merasakan bahwa untuk apa berpikir hari esok, hari ini pun belum kulalui sepenuhnya. Anggapan demikian sering membuatku melupakan visi hidup yang sesungguhnya. Aku ada, karena hari ini aku sungguh-sungguh ada, dan bukannya ada pada masa kemudian. Pemikiran eksistensialis ini membuatku jumud dan stagnan. Aku seperti menjadi budak masa kini.

Virus kedua, paradigm berpikir materialisme. Ini mungkin kenyataan yang paling telanjang terjadi sekarang ini. Kesuksesan semata-mata diukur dari kemampuannya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Orang dianggap sukses apabila ia telah kaya karena memiliki fasilitas hidup yang mewah. Orang menjadi berhasil bila mampu mengumpulkan capital dalam jumlah besar. Paradigma ini sering membuat salah arah. Kemajuan itu bukan hanya secara material, tetapi juga rohaniah (batiniah). Banyak pengalaman batin yang luput dari list kesuksesan hidupku.

Virus ketiga, aku dapat, karena usahaku sendiri, tidak ada campur tangan Tuhan. Beberapa kali aku merasakan pengalaman ini hingga Tuhan menegurku dengan caranya sendiri. Beberapa tahun ini aku berpikira terlalu rasional. Mungkin ini pengaruh dari bacaanku yang cenderung liberal dan sangat toleran dengan wacana-wacana alternatif hingga loss control.

Masih banyak lagi virus-virus lain yang belum sempat aku tuliskan. Aku percaya pengalaman sejarah yang kualami memberi banyak kearifan. Banyak cara dan jalan untuk keluar dari “kepompong sejarah”. Meski hukum alam selalu menunjukkan pentingya proses, namun Tuhan memberi jalan pintas (by pass) untuk kembali kepada kesejatian yang fitri dan putih. Dalam dua belas bulan setahun, ada bulan mulia. Dalam tujuh hari ada hari yang istimewa. Bahkan saat-saat kita ibadah pun menjadi saat yang spesial. Ada sholat malam yang merupakan SLJJ (Sambungan Langsung Jarak Jauh) yang relatif minim dengan high trafficking (lalu lintas yang sibuk). Saat itu dimana hamba sepenuhnya berpasrah kepada Allah. Intinya, memang, hidup terlalu sayang untuk dijalani apa adanya. Banyak hal yang kuperoleh andai aku mau mengusahakannya. Mari rayakan hidup dengan penuh rasa syukur. Ya, Allah aku bermohon kepada-Mu atas taubat-taubatku terdahulu. Sungguh, aku ingin selalu mengingat-Mu dengan penuh cinta!!!!!!!
Cinambo, 11 September 2009
Selengkapnya

Catatan Perjalanan Lasenas VII di Manado

Kamis, 20 Agustus 2009

Oleh Iim Imadudin

“Sejarah adalah travelogue para pencari kebenaran”

Bagiku, setiap perjalanan memiliki sejarahnya sendiri. Ada ingatan personal maupun kolektif yang menyertainya. Entah itu kenangan yang manis ataupun pahit selalu tersusun rapi dalam file-file pikiran. Mulai tanggal 13 hingga 18 Agustus 2009, aku mengikuti Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) ke-7 di Manado. Berkenaan dengan Lasenas, ini yang kedua kalinya aku ikuti. Tahun 2004, aku mengikuti Lasenas di Aceh, tepat empat bulan sebelum tragedi tsunami Aceh yang telah melegenda itu.

Aku selalu ingin mengabadikan ingatan tentang apapun dalam bentuk tulisan. Karena aku sadar, ingatan manusia tidak cukup menampung detil-detil peristiwa yang begitu banyak. Manusia memiliki memori yang pendek. Bukankah manusia adalah tempatnya kesalahan dan kelupaan. Itulah sebabnya kepikunan yang notabene adalah kelupaan selalu menyertai ketuaan. Maka, perjuangan kita adalah perjuangan melawan lupa. Mudah-mudahan tulisan ini tidak saja bermanfaat bagiku. Namun juga, orang-orang yang ingin pula merasakan dan mengenang perjalanan yang aku lakukan. Bagi teman-teman yang mengikuti Lasenas silakan membacanya sebagai memori bersama.

14 Agustus 2009
Aku merupakan bagian delegasi BPSNT Bandung yang terdiri dari Bapak Drs. Toto Sucipto (Kepala BPSNT Bandung), Dudung Koswara, S.Pd (Guru SMAN 1 Kota Sukabumi), Nurlesa Nidia Salam (Siswi SMAN 1 Tarogong Kidul Garut), dan Nadiyya Anindita (Siswi SMAN 1 Subang). Ketiga peserta yang dibawa Pak Toto merupakan peserta terbaik hasil Lawatan Sejarah Daerah yang diselenggarakan BPSNT Bandung beberapa bulan silam. Bersama kami, ikut pula partisipan dari wilayah kerja, yaitu Drs. Muhammad Irwan (Guru SMAN 1 Kota Serang) dan Rahma Alia (Siswi MAN 1 Jakarta). Show must go on!!

Dingin menyergap Jakarta menjelang pagi, Kami bersama peserta lasenas yang menginap di Hotel Trisula meluncur ke Bandar Soekarno Hatta Sekitar pukul 03.15 WIB. Kegelapan belum lagi sirna, namun orang-orang dengan tujuan yang berbeda-beda bersiap-siap melakukan penerbangan. Sekitar 75 peserta yang berasal dari BPSNT Bandung, Yogyakarta, Aceh, Padang, Tanjung Pinang, dan Pontianak; sejumlah partisipan dan panitia terbang dengan pesawat Sriwijaya Air pada pukul 05.45 WIB. Pesawat sebelum menuju Manado, harus transit terlebih dahulu di Surabaya. Beberapa jam aku melayang-layang di udara. Dalam ketinggian ribuan kaki, aku merasa ketidakberdayaan sebagai makhluk yang lemah. Melihat ke arah jendela pesawat yang nampak hanyalah gumpalan awan putih yang berarak. Aku selalu membayangkan lagu Katon Bagaskara tentang negeri di awan. Mungkinkah ada kehidupan lain di sana, wallahu a’lam. Kadang-kadang terlihat pula puncak-puncak gunung yang memaku ke bumi. Adapula noktah-noktah kecil yang samar terlihat. Itulah pulau-pulau Indonesia permai yang begitu luas. Langit Manado begitu cerah, secerah hatiku melakukan perjalanan ini. Tepat pukul 11.00 WITA, pesawat mendarat di Bandara Sam Ratulangi, kota Manado. Teman-teman BPSNT Manado menyambut kami. Sebagian menuju Hotel Orion,dan sebagian lagi ke Golden Lake Hotel.

Pada pukul 19.00 WITA, sebanyak 175 peserta Lasenas berkumpul di Golden Lake. Peserta siswa dibagi menjadi tujuh kelompok. Dalam kuis kesejarahan, Drs. Harry Untoro Drajat, M.A. (Dirjen Sepur) mencoba mengeksplorasi wawasan siswa mengenai warisan sejarah. Beliau tidak memberikan pertanyaan biasa, melainkan mengajak siswa untuk merumuskan jawabannya sendiri. Beliau mengandaikan warisan sejarah itu sebagai jam tangan. Nilai-nilai apa saja yang ada dalam jam tangan dan bagaimana merawat dan menjaganya. Ternyata dari siswa keluar jawaban-jawaban yang cerdas. Jam tangan adalah simbol waktu, etika, teknologi, dan seterusnya. Mereka memberi banyak jalan untuk melestarikan warisan sejarah dan budaya bangsa.

Bersambung…………………………..
Selengkapnya

Pemuda dan Reduksi Imajinasi Sosial

Kamis, 06 Agustus 2009

Oleh Iim Imadudin

Ketika tidak ada jalan keluar, darimanakah orang-orang muda mendapat ilham untuk melakukan radikalisasi? Mereka yang dibesarkan dari rahim sejarah mengapa begitu bebas melawan ibu kandung zamannya? Kedua pertanyaan tersebut mungkin sangat teleologis, karena mencoba mencari jawab pada level permukaan terhadap sesuatu yang sebetulnya berakar tunggang sangat kuat. Pemuda sesuai dengan sebutannya tumbuh dalam masa transisi menuju fase pendewasaan. Dalam fase tersebut pemuda mengalami pergolakan secara emosional dan intelektual.

Yozar Anwar pernah menulis buku “Para Pemuda Pemberang” tentang gerakan Mahasiswa tahun 1966. Ahmad Wahib, perintis gerakan pembaharuan Islam dibukukan catatan hariannya menjadi “Pergolakan Pemikiran Islam” yang sangat menghebohkan itu. Soe Hock Gie, aktivis 1966 yang dulu jarang disebut namanya, catatan hariannya dikumpulkan dengan judul “Catatan Seorang Demonstran”. Masih banyak lagi buku yang pernah ditulis tentang orang muda dengan semangat yang sama. Pemuda itu radikal (juga cerdas), bebas, dan berani.

Sekarang ketika ruang aktualisasi diri makin menyempit dapatkah kita berharap adanya Gie dan Wahib baru? Dahulu kita berhadapan dengan tantangan zaman yang kasat mata, yaitu rezim tiran yang berkuasa, otoritas pemegang kebenaran, dan politisasi orang muda. Sekarang musuh-musuh yang tidak tampak menumpang dalam gerbong ideologi, kekuatan politik dan pasar. Orang muda terpaksa bertarung seperti melawan bayangan. Kekuatan kapitalisme yang merambah bidang yang begitu luas memaksa pemuda memiskinkan imajinasi sosialnya. Imajinasi sosial ialah semacam sensitivitas terhadap lingkungan bagaimana kita memberikan interpretasi yang manusiawi terhadap persoalan yang terjadi di masyarakat. Maka pada saat budaya popular makin memandulkan kreativitas orang muda, pemuda harus menemukan identitasnya dan merumuskan tantangan zamannya.****
Cinambo, 15 Nopember 2005
Selengkapnya